Hari Arafah, Hari Paling Istimewa
https://uminafilah.blogspot.com/2013/10/hari-arafah-hari-paling-istimewa.html
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Inilah haji pertama sekaligus terakhir yang beliau tunaikan, setelah
diangkat menjadi Nabi. Benar-benar peristiwa langka dan momen luar
biasa. Apalagi jika mengingat bahwa wukuf di Arafah adalah inti dari
ritual haji. Sabda beliau,
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji adalah Arafah”. (HR. Ahmad 18774, Nasai 3016, Turmudzi 889, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Gersangnya padang Arafah dan teriknya matahari, sama sekali tidak
mengurungkan tekad para sahabat untuk memerhatikan dengan seksama setiap
gerakan dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab
beliau sendiri berulang kali mengingatkan sedari awal, agar mereka
meneladani praktik manasik ini sebaik mungkin, sebab beliau mungkin
takkan berjumpa lagi dengan mereka setelah itu.
Masih tertanam kuat dalam ingatan para sahabat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggambarkan fenomena wukuf yang demikian agung tadi dalam sabdanya,
إِذَا كَانَ يَوْمُ عَرَفَةَ إِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ إِلَى
السَّمَاءِ فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى
عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاحِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ” فَتَقُولُ لَهُ
الْمَلَائِكَةُ: أَيْ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ يَزْهُو وَفُلَانٌ وَفُلَانٌ
قَالَ: يَقُولُ اللَّهُ: «قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ»
“Pada hari Arafah, Allah turun ke langit dunia dan membanggakan
mereka yang wukuf di hadapan para malaikat. Allah berkata, “Lihatlah
hamba-hamba-Ku itu! Mereka datang dari segala penjuru dengan rambut
kusut dan tubuh berdebu… saksikanlah oleh kalian, bahwa Aku telah
mengampuni mereka”. Para malaikat menyela, “Akan tetapi di sana ada si
fulan dan si fulan ?”, namun kata Allah: “Aku telah mengampuni mereka”.
Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَمَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ عَتِيقًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada satu hari pun yang saat itu Allah demikian banyak membebaskan manusia dari neraka, melebihi hari Arafah.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2840 dan Ibnu Hibban no. 3853. Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Mandah dalam kitab At Tauhid, no. 984)
Jangan anda bayangkan bahwa kondisi mereka seperti jemaah haji kita
saat ini. Jemaah haji kita hanya menempuh sepuluh jam untuk tiba di
tanah suci, sedangkan para sahabat harus menempuhnya dalam sepuluh hari.
Jemaah kita menaiki pesawat yang full AC, sedangkan para sahabat hanya
mengendarai unta dengan terpaan hawa panas gurun pasir. Makanya, dapat
dipastikan bahwa setelah 10 hari lebih dalam keadaan ihram, rambut
mereka pasti kusut dan berdebu.
Mereka juga tidak tinggal dalam kemah yang sejuk dengan makanan yang
melimpah. Mayoritas sahabat – termasuk Rasulullah – justru melalui hari
yang demikian terik tadi tanpa naungan apapun.
Singkatnya, pada hari itu terkumpullah pada mereka sejumlah faktor
penting penyebab terkabulnya doa. Mulai dari kondisi yang
memprihatinkan, waktu dan tempat yang mulia, hingga dekatnya Allah
kepada mereka.
http://www.konsultasisyariah.com/hari-arafah-hari-paling-istimewa/